Alwyldan Mustahir Soroti Gondola Darurat di Tompobulu, Desak Pemkab Maros Wujudkan Janji Pembangunan Jembatan
Agem Berita Makasar– Aroma ketimpangan infrastruktur masih menyengat di sejumlah wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Salah satu potret buram itu terpampang nyata di Dusun Makmur, Desa Bontomanurung, Kecamatan Tompobulu. Di tempat ini, puluhan siswa setiap harinya mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengejar ilmu. Mereka menyeberangi sungai dengan menggunakan gondola darurat—sebuah sistem katrol dan tali sederhana yang menjadi satu-satunya akses menuju sekolah.
Kondisi memprihatinkan ini akhirnya menyita perhatian Anggota Komisi I DPRD Maros, Alwyldan Mustahir. Politisi muda Partai Amanat Nasional (PAN) itu mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros untuk segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen yang telah dijanjikan sejak lama.
“Setahu saya, rencana pembangunan jembatan itu sudah ada sejak masa Bupati Hatta Rahman. Namun sampai sekarang belum juga terealisasi,” tegas Alwyldan, Jumat (29/8/2025).
Gondola Darurat: Antara Nyat dan Nyawa
Sebelum gondola ini ada, warga sebenarnya telah berjuang dengan caranya sendiri. Mereka menyusun batu dan papan untuk membuat jembatan darurat yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua pengangkut hasil kebun. Namun, solusi seadanya itu seringkai tak berdaya dihadang derasnya arus sungai, terutama saat musim hujan.
Gondola yang dibangun secara swadaya oleh pemilik tanah pun muncul sebagai ‘penyelamat’. Dengan sistem tarik manual menggunakan tali yang terhubung ke katrol di tiang beton, gondola sepanjang 400 meter ini membutuhkan waktu 5-7 menit untuk menyeberang. Meski lebih baik dari berjalan kaki di tengah arus, gondola ini tetaplah berbahaya. Risiko tercebur atau tali putus selalu mengintai, terlebih saat debit air meninggi dan arus sungai mengalir deras.

Baca Juga: Langit Cerah Makassar Menyaksikan Momen Bersejarah Sinergi TNI dan Kejaksaan
Bagi sekitar 50 siswa SDN Gattarang, gondola ini adalah jalan satu-satunya. Melewati jalur lain berarti harus memutar sangat jauh ke arah Pucak, yang memakan waktu dan tenaga berlipat.
Dampak pada Dunia Pendidikan: Trauma dan Ketertinggalan
Alwyldan menegaskan, kondisi ini sangat merugikan masa depan anak-anak. “Saat musim hujan, banyak siswa terpaksa tidak masuk karena takut menyeberang. Ini jelas mengganggu proses belajar dan berpotensi menimbulkan trauma,” ujarnya.
Kisah itu dibenarkan langsung oleh para pelaku kecilnya. Farel, seorang siswa kelas 3 SD, dengan polos menceritakan pengalamannya. “Biasanya kami berangkat jam 06.30 dan sampai sekolah sekitar jam 08.30. Kalau air sungai naik, saya sering tidak ke sekolah karena takut,” ucapnya. Setiap pagi, ia dan teman-temannya bergantian menarik tali gondola secara manual.
Misra, murid lainnya, mengungkapkan keterpaksaannya. “Mau tidak mau lewat sini, karena tidak ada jalur lain,” katanya singkat. Potret ini menggambarkan betapa perjuangan untuk sekadar sampai ke sekolah bisa sangat berat.
Menyikapi hal tersebut, Alwyldan tidak hanya mendesak pembangunan jembatan. Ia juga mendorong Dinas Pendidikan setempat untuk membuka kelas jauh di Dusun Makmur atau Dusun Pattiro. “Kalau ada kelas jauh, anak-anak bisa belajar lebih aman. Mereka tidak perlu lagi menyeberang sungai,” jelasnya.
Respon Pemkab: Janji dan Peninjauan
Desakan yang disampaikan Alwyldan disambut hangat oleh warga yang telah lama berharap perhatian serius dari pemerintah. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Maros, Alfian Amri, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.
“Kami sudah koordinasi dengan Balai. Insyaallah besok kami akan turun langsung ke lokasi untuk melakukan peninjauan,” janji Alfian.
Ia menambahkan bahwa hasil peninjauan nantinya akan menjadi dasar penyusunan perencanaan teknis. Pembangunan jembatan diharapkan segera masuk dalam prioritas dan mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat. “Karena lokasinya di daerah aliran sungai, tentu harus melibatkan Balai agar sesuai standar teknis,” katanya.
Menanti Realisasi di Tengah Janji
Situasi di Dusun Makmur adalah cerminan dari puluhan bahkan ratusan titik tertinggal di Indonesia yang masih menunggu sentuhan negara. Gondola darurat mungkin bisa jadi simbol kegigihan, tetapi ia juga adalah pengingat pahit akan janji infrastruktur yang belum terwujud.
Anak-anak di Tompobulu telah menunjukkan semangat mereka dengan mempertaruhkan keselamatan. Kini, bola ada di pihak pemerintah. Apakah janji peninjauan dan koordinasi kali ini akan berujung pada jembatan nyata, atau hanya akan menjadi rencana yang kembali tenggelam dibawa arus sungai dan waktu?
Masyarakat, terutama 50 siswa SDN Gattarang, menunggu bukti. Mereka tidak butuh janji lagi, tetapi aksi nyata yang mampu mengubah perjalanan berbahaya mereka menuju sekolah menjadi aman dan membanggakan.

![appi-harap-ada-sekolah-rakyat-dibangun-di-wilayah-pulau-ehl[1]](https://fastfocuscareers.com/wp-content/uploads/2025/09/appi-harap-ada-sekolah-rakyat-dibangun-di-wilayah-pulau-ehl1-148x111.jpg)
![6fb08237-6881-46a6-a04e-e0ea947441d0_169[1]](https://fastfocuscareers.com/wp-content/uploads/2025/09/6fb08237-6881-46a6-a04e-e0ea947441d0_1691-148x111.jpeg)
![waspada-penjahat-atm-modus-tusuk-gigi-beraksi-lagi_m_183337[1]](https://fastfocuscareers.com/wp-content/uploads/2025/09/waspada-penjahat-atm-modus-tusuk-gigi-beraksi-lagi_m_1833371-148x111.webp)
![2025-09-04-DPRD-MAKASSAR[1]](https://fastfocuscareers.com/wp-content/uploads/2025/09/2025-09-04-DPRD-MAKASSAR1-148x111.jpg)
![1672113606-tingkatkan-akses-air-minum-di-kota-tanjungpinang-kementerian-pupr-optimalisasi-spam-swro-WhatsAppImage2021-05-24at19.02.13(1)[1]](https://fastfocuscareers.com/wp-content/uploads/2025/09/1672113606-tingkatkan-akses-air-minum-di-kota-tanjungpinang-kementerian-pupr-optimalisasi-spam-swro-WhatsApp20Image202021-05-2420at2019.02.132011-148x111.jpeg)