Senin, 27 April 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Mobile GamingMobile Gaming
Mobile Gaming - Your source for the latest articles and insights
Beranda Berita Kabut Kesedihan Menyelimuti Kalero, Bup Bone Hadir...
Berita

Kabut Kesedihan Menyelimuti Kalero, Bup Bone Hadir Beri Penghiburan dan Ibadah Umrah

Duka yang Menyayat di Bone: Bupati Hadir dan Anugerahkan Umrah untuk Ibu yang Kehilangan “Anak Semata Wayang” Agen Berita Makasar– Kabut duka

Kabut Kesedihan Menyelimuti Kalero, Bup Bone Hadir Beri Penghiburan dan Ibadah Umrah

Duka yang Menyayat di Bone: Bupati Hadir dan Anugerahkan Umrah untuk Ibu yang Kehilangan “Anak Semata Wayang”

Agen Berita Makasar– Kabut duka masih menyelimuti Dusun Bempesu, Desa Kalero, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone. Suasanya hening dan haru, hanya sesekali terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengalun dari dalam rumah sederhana itu. Ini adalah rumah duka almarhumah Sarinawati (25), seorang perempuan muda yang menjadi korban tragis dalam kebakaran saat demonstrasi di Kantor DPRD Kota Makassar.

Di tengah nestapa yang mendalam itu, kedatangan sebuah rombongan memberikan secercah penghiburan. Minggu (31/8/2025), Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, bersama sang istri, Ketua TP PKK Hj. Maryam Andi Asman, menyambangi rumah duka. Kedatangan mereka bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan sebuah kunjungan yang penuh empati dan kepedulian dari seorang pemimpin kepada rakyatnya yang sedang berduka.

Rombongan yang turut diisi oleh Dandim 1407/Bone Letkol Inf Muhammad Idrus beserta istri, sejumlah kepala OPD Bone, dan Forkopimcam Kajuara, disambut dengan air mata dan rasa haru oleh keluarga besar Sarinawati. Kehadiran orang nomor satu di Bone itu menunjukkan bahwa kepedihan keluarga Kalero ini adalah kepedihan seluruh masyarakat Bone.

Belasungkawa dan Santunan dari Hati Seorang Pemimpin

Dengan wajah yang berempati, Bupati Andi Asman Sulaiman menyampaikan belasungkawa yang mendalam. “Kami sekeluarga, beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Bone turut berdukacita yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujarnya yang lirih, menyentuh relung hati setiap yang hadir.

Sebagai bentuk konkret kepeduliannya, Bupati menyerahkan santunan kepada keluarga. Namun, yang membuat kunjungan ini begitu spesial dan dikenang adalah janji yang lahir dari keikhlasan seorang pemimpin. Andi Asman tidak hanya berhenti pada kata-kata dan santunan, tetapi ia mengambil langkah luar biasa.

Kabut Kesedihan Menyelimuti Kalero, Bup Bone Hadir Beri Penghiburan dan Ibadah Umrah
Kabut Kesedihan Menyelimuti Kalero, Bup Bone Hadir Beri Penghiburan dan Ibadah Umrah

Baca Juga: Badai Kontroversi Kebijakan NJOP Sinjai yang Naik 100% Disoroti HMI

Dengan penuh ketulusan, ia menyampaikan kepada ibu kandung almarhumah, “Tetap semangat, Bu. Saya bersama keluarga akan memberangkatkan Ibu umrah dengan biaya pribadi, agar Ibu lebih dapat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.”

Sebuah ikrar yang langsung meredam sekelumit kesedihan. Pemberangkatan umrah, salah satu impian terbesar setiap muslim, menjadi hadiah spiritual yang tepat di momen paling pilu dalam hidup seorang ibu. Keputusan Bupati untuk membiayainya secara pribadi, bukan menggunakan anggaran daerah, semakin menegaskan bahwa tindakan ini murni dari hati nuraninya sebagai sesama manusia yang ingin meringankan beban.

Usai menyampaikan takziah, Bupati dan rombongan tidak langsung berpamitan. Mereka melanjutkan perjalanan untuk berziarah ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Guru Lamba, tempat Sarinawati disemayamkan sejak Sabtu (30/8) lalu. Sebuah gesture penghormatan terakhir yang menunjukkan bahwa perhatiannya tulus hingga ke ujung perjalanan jasmani almarhumah.

Mengenang Sarinawati: Pejuang Keluarga dari Bone

Untuk memahami kedalaman duka ini, kita harus mengenal siapa Sarinawati. Ia bukan sekadar nama dalam berita. Semasa hidup, Sarina adalah sosok pribadi yang tangguh dan pekerja keras. Sebagai anak tunggal dari pasangan yang telah bercerai, ia memikul beban yang tidak ringan. Dialah tulang punggung keluarga, yang dengan jerih payahnya mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya di kampung.

Beban itu semakin berat karena ia juga harus membiayai pengobatan neneknya yang sakit. Ayahnya bekerja sebagai TKI di Malaysia, sementara ibunya tinggal di kampung untuk merawat orang tua yang tengah sakit-sakitan. Sarina adalah harapan satu-satunya. Kepergiannya bukan hanya kehilangan seorang anak, tetapi juga kehilangan tumpuan ekonomi dan masa depan keluarga.

Duka yang Berlipat: Telepon Terakhir dan Video Call Perpisahan

Kisah pilu ini semakin menyayat hati dengan detail-detail yang disampaikan oleh keluarganya. Kabar kepergian Sarina datang bagai petir di siang bolong. Keluarga besar tidak bisa mempercayainya.

“Kami tidak percaya saat ditelpon tengang malam kalau Sarina meninggal. Malamnya masih sempat ji baku telfonan sama mamanya,” ucap tante almarhumah, Hasma, suara bergetar menahan sedih.

Telepon terakhir yang penuh canda dan tawa itu tiba-tiba menjadi kenangan paling pahit. Ibunda almarhumah, yang kehilangan “anak semata wayangnya”, terus-meneris kolaps dan pingsan, tak sanggup menerima kenyataan pahit bahwa ia tak akan lagi mendengar suara anaknya.

Yang tak kalah memilukan, sang ayah di Malaysia hanya bisa menyaksikan jenazah anak tercintanya untuk terakhir kalinya melalui sambungan video call. Sebuah perpisahan yang jarak ribuan kilometer, di mana seorang ayah hanya bisa menatap layar ponsel dengan air mata berderai, tak mampu memeluk atau mencium anaknya untuk terakhir kali. Sebuah gambaran betapa kejamnya takdir yang harus diterima keluarga ini.

Pemakamannya dihadiri oleh banyak pelayat yang turut merasakan kesedihan mendalam. Kehadiran sejumlah anggota DPRD Makassar dan DPRD Bone, seperti Andi Tenri Uji dan Bustanil Arifin, menunjukkan bahwa tragedi ini menyentuh banyak lapisan.

Makna di Balik Gesture Sang Bupati

Tindakan Bupati Bone Andi Asman Sulaiman memberangkatkan umrah ibu korban melampaui sekadar bantuan materi. Ia memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: penghiburan spiritual dan waktu untuk penyembuhan batin.

Di tanah suci, seorang ibu yang luluh lantak hatinya dapat mencari ketenangan, memanjatkan doa terbaik untuk anaknya, dan menemukan kekuatan baru untuk menerima takdir Illahi. Itu adalah proses penyembuhan yang paling dibutuhkan di saat-saat seperti ini.

Gesture ini juga mengirimkan pesan kuat kepada seluruh masyarakat Bone bahwa pemimpin mereka hadir tidak hanya di saat sukacita, tetapi lebih-lebih di saat duka yang paling dalam. Kepemimpinan yang humanis dan empatik seperti inilah yang membangun ikatan emosional yang kuat antara pemimpin dan yang dipimpin.

Kepedihan keluarga Sarinawati mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, dalam duka yang menyayat itu, kehadiran, kata-kata, dan tindakan tulus dari sang Bupati menjadi pelita kecil yang menerangi, pengingat bahwa di tengah kegelapan, selalu ada kebaikan dan kepedulian yang siap mengulurkan tangan. Semoga perjalanan umrah sang ibu kelak menjadi jalan untuk menemukan ketabahan baru dan bahwa pengorbanan Sarinawati menjadi pengingat bagi semua untuk menciptakan perdamaian dan keamanan bagi setiap warga.

Tags: Bone Sarinawati TPU